Hai kamu (lagi)…..
Bagaimana kabarmu? Iya,
selalu itu yang ku tanyakan pertama kali kepadamu. Meski aku tau saat ini kamu
pasti baik-baik saja bersama wanitamu. Sungguh demikianlah sebenar-benarnya
doaku, percayalah..
Entah ini surat
keberapa yang aku tuliskan untukmu yang tentu saja tak pernah sampai ke
tempatmu. Bukan, bukan karena aku tak tau dimana kamu tinggal (meski memang
begitu sebenarnya) namun memang sudah seharusnya surat ini tak pernah perlu kau
terima. Kenapa? Ya mungkin memang begini lebih baik.
Ah tidak terasa ya
sudah 2013 saja. Sudah berapa lama ya? Bukan, bukan sudah berapa lama kita tak
bertemu, namun sudah berapa lama kebodohan ini bertahan? Aduh bukan
kebodohanmu, namun kebodohanku, kebodohanku mempertahankan apa yang (mungkin)
tidak perlu kupertahankan namun kebodohan yang harusnya kuperjuangkan. Ah namun
aku terlalu pengecut mungkin. Jangankan memperjuangkan, mengungkapkannya saja aku
enggan.
Jika kamu bertanya
kapan aku memulainya, bersiaplah untuk tak menemukan jawabannya. Bagaimana bisa
aku menjawab pertanyaan yang aku sendiri menanyakannya. Jadi, kusarankan jangan
tanya saja.
Aku bahkan tak sadar
kapan kamu mulai mengendap masuk seperti pencuri ulung, mengambil milikku tanpa
kusadari. Kamu, telah mengambil hati ini dan kamu bawa pergi entah sejak kapan.
Hingga kini apa yang kamu bawa pergi (masih) belum kembali. Entah bagaimana aku
membawanya kembali, karena sepertinya ia sudah nyaman berada padamu.
Jika kamu juga bertanya
mengapa aku tak pernah mengatakannya padamu, bolehkah aku balik bertanya,
“benarkah kamu sedikitpun tidak menyadarinya?”
Baiklah..baiklah..kamu
boleh membela dirimu. Silakan katakan bahwa kamu memang bukan lelaki peka
seperti yang sering kau katakan (dan seperti yang aku rasakan juga), aku tak
akan menyalahkanmu karena ini memang perasaanku.
Entah mengapa aku hanya
merasa bahwa lebih baik demikian, diam-diam menyayangimu, diam-diam menyebut
namamu dalam doa-doaku, dan diam-diam merindukanmu. Entahlah, aku terlalu takut
mengambil resiko kehilangan kamu sebagai sahabat jika aku mengatakannya. Iya
aku tau, ini alasan paling klise yang juga dipake pengecut-pengecut lain di
luar sana untuk membela diri. Tapi aku tidak membela diri, aku hanya merasa
inilah yang harus aku lakukan. Hanya saja yang tidak bijaksana adalah masih
menyimpan perasaan untukmu hingga detik ini aku menuliskannya.
Kamu mungkin tak tahu
bahwa ketika merindukanmu aku akan menulis surat untukmu atau sekedar kata-kata
bodoh yang tidak ajaib karena memang kata-kata itu bukan mantra penyihir atau
debu ajaib pixie hollow. Dan aku akan menjadi sebal karena setelah
menuliskannya aku malah semakin merindukanmu. Namun hanya sampai disitu saja,
karena aku kembali tak bisa apa-apa.
Kumohon jangan
menghakimiku. Kamu pikir aku tidak berusaha melupakanmu? Aku berusaha keras
jika kamu tahu. Selama dua kali bumi berevolusi, selama itu pula aku berusaha
menghapus apa yang seharusnya aku hapus. Membuang yang memang harusnya aku
buang jauh-jauh. Kenangan. Ingatan. Bayangan. Kamu. Kita.
Berulang kali aku
mencoba, berusaha, dan berkali itu pun aku menyerah. Entah karena aku yang
memang tak mampu atau karena aku yang memang tak ingin melupakan. Saat itu
mungkin yang terakhir yang menjadi alasan.. iya, alasan yang selalu aku ingkari
bahkan pada diriku sendiri.
Aku memang tak ingin melupakan
semuanya (sebenarnya), terlebih tentang kamu. Terlalu berharga menurutku.
Berharga yang menyakitkan. Namun masih enggan meninggalkan. Silakan memakiku
bodoh, idiot atau apalah terserah atau tampar aku sekalian agar sadar.
Dan aku masih terus
tenggelam dalam kesakitan yang telah menjelma candu. Mengingatmu adalah
menyakiti diriku sendiri, namun terus aku lakukan berkali-kali. Seolah sakit
ini jauh lebih baik dibandingkan melupakanmu walau sedetik. Aku tau ini
berlebihan, jadi lebih baik jangan percaya.
Kamu cukup percaya
bahwa aku benar-benar pernah ingin melupakanmu, melupakan kesakitanku. Namun
aku malah menjadi takut. Takut seandainya benar suatu saat nanti aku mampu
melupakanmu. Silakan heran karena akupun juga. Saat itu aku bahkan baru tahu
ada perasaan semacam itu. Ingin melupakan namun takut melupakan. Entah ini
konspirasi dari mana, mungkin kamu tahu?
Ah aku capek. Entah
daritadi apa yang aku tulis. Jika kamu mengharapkan intisari, kumohon jangan
padaku karena aku tak menyiapkannya. Cukup kamu baca saja (kalau surat ini
sampai padamu). Akan aku sambung jika aku berkenan suatu saat nanti… :))
Kamu baik-baiklah di
tempatmu… jangan nakal, kamu juga sudah beranjak dewasa menuju tua. Simpanlah
jiwa anak-anakmu untuk aku temui suatu hari nanti saat aku ingin bermain (lagi)..