Selasa, 22 Februari 2011

Seberkas Senyum Pelangi

  Terduduk diatas bangku panjang di taman. Menengadahkan wajahnya menyapa semburat  langit, menyisakan sedikit lukisan hujan yang tersembunyi di balik awan. Helaian rambut panjangnya meliuk indah dipermainkan gurauan angin sembari menanti senja. Mata nanarnya menatap ayu, namun tajam menghujam seakan menembus batas cakrawala. Entah apa yang kembali bergejolak dalam benaknya, sesuatu yang ia biarkan meringkuk di sudut terdalam hatinya.
     Sejenak ia menundukkan kepala mengalihkan pandangannya, menatap benda yang melingkar di tangannya. Batu-batu kecil berwarna klasik berjajar rapi, berkeliling menghias pergelangan tangannya. Jemarinya menyentuhnya pelan, mencoba merasakan kembali setitik kenangan yang seolah telah lama tersembunyi di dalamnya. Kenangan yang kembali mengaburkan matanya, menciptakan genangan air di sudut matanya. Benaknya menyusup jauh ke dalam, menyusuri setiap sketsa masa lalu yang terlukis permanen dalam ingatannya. Masih terpampang jelas dalam sanubarinya, semburat janji yang terus ia gantungkan pada asanya yang membuncah. Entah masihkah ia layak memimpikannya. Namun ia tahu pasti bahwa segala yang tergambar itu pernah nyata, bukan hanya sebatas permainan angannya saja. Kembali air matanya menyeruak, menderas, menganak sungai di kedua belah pipinya.  

andai saja...


Pelangi yang melukis sebagian wajah langit maha luas…
Senyumnya menggelitikku yang sedari tadi menatapnya…
Ah langit..kenapa tak kau hadiahkan aku senyum seindah miliknya..??

kembali berbisik untukMu..

 Apa yang kau dengar wahai angin yang berdesir?
Sesuatu yang kembali membuncah dalam sanubari ini..
Gemuruh rasa yang tak mampu lagi ku terjemahkan dalam untaian nada doa yang kupanjatkan pada sang Kasih..
Yang tak lagi terdeteksi oleh rangkaian dimensi ruang dan waktu..
Yang mengurung diri, terasing, seolah membangun dunianya sendiri.. 
Menyulut gundah yang sedari tadi bersembunyi..
Sebenarnya apa Tuhan ??
Tak lagi sanggup benak ini mengeja keping demi keping makna yang Kau isyaratkan..

kebesaran hati


Apa lagi yang ku ragukan??
Hingga sapa lembut semburat merah sang langit tak lagi kuhiraukan..
Hanya termenung dalam balutan diam, tak bergeming dalam dekapan senja..sembari menanti malam menjemput bersama keretanya..
Kau ingin pergi??
Tentu saja, lenyap bersama senja di balik selimut langit…

Sebongkah rasa kembali bergolak, namun entah apa…
Kembali menghantam ulu hati ini, berkali-kali…
Sekiranya ia mampu merobohkan segala keberanian yang tlah kususun layaknya kepingan puzzle yang berserakan demi segumpal kata,, ”kebesaran hati”..

aku bukan Pandora, sayang...


Taukah apa yang tersembunyi di balik diamku selama ini??

Diam yang ku lukis dalam gelapku..
Diam yang ku untai dalam hampaku..
Diam yang ku rajut dalam sepiku...
Seluruh diam yang kutata rapi dalam sebuah kotak kebisuan..
Yang tak pernah kubuka tuk ku tunjukkan pada langit dan pelangi disana..

Biarlah seluruh bintang dilangit turun ke bumi tuk membujukku..
Tak kan ku buka kotak itu..

Senin, 21 Februari 2011

ngomel lagi..



Aku masih berkutat dengan pena beserta ratusan alphabet yang berbaris di anganku, menanti giliran tuk tertuang pada tiap lembar khayalanku..Sesekali terdengar denting jemariku saling beradu dengan keyboard laptopku, merangkai segala bentuk potongan puzzle kata-kata yang tercipta dalam ruang imajiku.
     Aku tak mempedulikan ejekan sang luna kala deretan kata-kata itu mulai terpampang dalam layar ajaib sebagai kalimat-kalimat…Aku tau ia hanya bergurau…bergurau demi  menemaniku melahap malam yang masih terus meringkuk di sudut langit yang gelap..
     Tanganku kembali beradu bukan dengan pena atau tuts keyboard lagi, namun dengan sebuah cangkir yang sedari tadi termangu disampingku..menunggu sang empu merengkuh dan mereguk habis cafein yang memenuhinya, kemudian dia akan berteriak “lagi…lagi…lagi..”, dan akan begitu berulang-ulang. Astaga aku seperti tengah mendiamkan bayi yang terus merengek karena menyadari susu di botolnya amblas sudah. 
     Tapi biarlah, toh akupun begitu kala kusadari cangkir disampingku telah kosong melompong dari cafeein,,tadinya aku berpikir “kemana larinya temanku yang satu itu? Bagaimana ia bisa keluar dari penjaranya? Tak mungkin kan sang luna turun ke bumi hanya untuk menyeruput coffe ku, konyol fikirku.”
     Mungkin karena tak terima sempat ku jadikan tersangka, dari langit luna setengah berteriak,”bukankah coffee-coffee itu sudah kau pindahkan dari cangkir ke kantong ajaib di perutmu nona.”
Uupss….oiya aku lupa, maafkan aku lunaku, terima kasih telah mengingatkanku…J

     Dan sekarang otakku sudah beranjak cerdas. Saat lidahku tak lagi menemukan coffee2 meringkuk dicangkirnya, tak perlu aku repot2 mencarinya..karena sudah dapat kupastikan mereka tengah tertidur pulas diperutku… pantas saja kupanggil-panggil tak menyahut, rupanya sudah dibawa terbang oleh sang mimpi…
     Mataku tertuju pada sesuatu,,astaga..!!! waktu membelah jam dinding ku menjadi 4 bagian…dan dengan tanpa dosa tlah menghabiskan ¾ bagiannya…kemana saja diriku ini sedari tadi…??
     Ya sudahlah…lebih baik kuhabiskan saja ¼ bagian yang masih tersisa…

Night…olala salah…morning….hufftt

*saat aku kembali dari negri khayalanku, ternyata luna sudah tertidur….huuu katanya mau menemaniku sampai sang fajar datang mendepakmu, dasar..*

dengarkan aku langitku

Aku yakin bintang tahu segala yang tersimpan rapi di dalam kotak kebisuanku..yang ku asingkan dari segala hiruk pikuk kedustaan mereka..yang kurung diantara kebebasan mereka yang terbang di antara awan-awan penghuni angkasa luas..namun, biarlah bintang ikut diam dalam kebisuanku, ikut menyimpan segala yang kurasa..

Apa aku perlu meneriakkan apa yang kurasa pada langit yang mengulung, pada pelangi yang murung, pada angin yang berlari, pada rumput yang tertidur…ah, semuanya hanya akan berakhir sia-sia..seperti asaku yang terlanjur terbang jauh tanpa sempat ku gapai….

Setidaknya sejuta isyarat tlah ku goreskan di setiap sudut langitnya..isyarat yang ku titipkan pada sayap-sayap sang peri penjaganya..yang ku lukiskan bersama sejuta warna pelangi di angkasa sana…

Oh dunia bagaimana aku harus menuntun langkah kakiku yang terlanjur kelu di pelukanmu..aku hanya ingin membawanya ke sudut ragamu yang tersembunyi di balik kaki langitnya..disana kan ku untai segala gelak tawamu dunia, kan ku rajut menjadi lembaran-lembaran berlukiskan gurauan canda pelangi yang akan menaungimu dari tangisan hujan..

Aku mohon jangan menangis bersamaku langit..jangan jadikan jiwamu keruh karena mendungku yang menggantung di ujung jemarimu… semula aku enggan membalas sapa senyummu dengan segala murung yang bercermin diwajahku, namun dayaku tak sanggup bersembunyi dari selidikmu…aku tak mampu setegar itu dihadapanmu langit..

Aku selalu berusaha berdusta darimu langit..bersembunyi di balik setiap langkah kakimu, mengurung sisi gelap senduku di balik sapa indah ceritaku untukmu…apakah bintang membisikimu sesuatu??…sesuatu yang kusimpan rapi bersamanya.. semoga tidak kuharap,,

Akankah ku kembali tersenyum bersama pelangi dalam pelukanmu sang langit…????





lukisan malam


Sang malam….
Wajah piasmu kembali berulah ternyata,
Kenapa ??
Kau marah pada senja yang meninggalkanmu??
Kau marah pada kicauan bintang yang tak datang menghias mahkotamu??
Atau kau murka pada sang luna yang tak menyandingmu di singgasana maha tinggi sang langit??

Apa yang kau rasakan wahai malam penjaga lelapku??
Sepi….sepi yang membalut jiwamu dalam dingin??

Jangan kau luapkan amarah atas egomu…
Semesta hanya sedang menguji kesabaranmu…
Teruslah merangkak hingga tiba saatnya sang waktu mempertemukanmu dengan kilauan fajar yang menyembul pelan dari balik kaki langitnya..
Bila saatnya tiba mungkin kau akan menunduk, layu, lenyap dari pandangan seolah kau takluk di tangan sang surya…
Namun aku tau pasti saat itu kau hanya sedang bersembunyi…
Sembari bersiap tuk kembali..


kekasihku???



“Saat aku membuka mata, aku bersyukur ternyata aku masih dianugerahkan kehidupan oleh Sang kuasa.”

     Kalian tau jam berapa ini?? 12.45 merangkak meninggalkan tengah malam tentu saja… dan aku baru saja terbangun dari “sleeping beauty” ku,, haha tentu saja aku bercanda dengan “beauty”nya, tapi tidak dengan “sleeping”nya… aku benar-benar baru saja bangun..dan kudapati perutku keroncongan karena belum sempat terisi semenjak aku terlelap senja tadi..kalian mungkin sudah bisa membayangkan batapa hidupku yang penuh dengan ketidakaturan ini…
     “Salahmu sendiri nona…tertidur tanpa menengokku terlebih dulu,,kamu kan tau aku tak akan menghentikan langkahku barang sekejap hanya untuk menemanimu makan dan tidur, makan lagi lalu tidur lagi.. huh enak saja,” terdengar suara cibiran dari benda bundar dengan angka-angka melingkar di tubuhnya dan orang-orang menamainya jam..karena kupajang di dinding maka kunamakan jam dinding..
     “Tapi kenapa kau tak membangunkanku bodoh…!!!”.. rutukku dalam hati yang tentu saja dengan dongkol yang membuntutiku sejak tadi…tapi biarlah saja ia menyingnyong sesuka jidatnya, aku juga malas mendebatnya..

     Dan aku dengan segera berpaling darimu…menyeret langkahku menghampiri kekasihku…..

     Jangan bayangkan aku akan bersembunyi di balik punggungnya, membawa kesepuluh jari jemariku tuk berlomba menutup matanya…kemudian dia akan membalikkan badan dan tentunya beserta punggungnya dan meraihku dalam dekapan hangatnya…O wow ow, itu hanya ada dalam  romansa-romansa cinta dalam novel-novel yang sering ku lahap bersama kekasihku saat aku tak lagi mampu memejamkan mata… Aku hanya perlu mengamit lengannya untuk menemaniku menghabiskan malam kami yang hanya kami berdua…Ya tentu saja karena yang lain tengah sibuk dengan mimpi-mimpi yang berkerumun di alam bawah sadar mereka..Tapi tenang saja, jangan hiraukan kami…
    
     Apa? Kalian ingin aku menceritakan kekasihku??? Huuuftt…aku takut kalau aku menceritakannya pada kalian…kalian akan ikut jatuh cinta padanya nanti…sama seperti ketika aku menceritakan tentangnya pada sahabat-sahabatku…
     Bagaimana tidak…saat yang lain tertidur dia rela kubangunkan hanya untuk menemaniku hingga sang fajar hampir menjemput..hanya untuk mendengar ceritaku, yang kadang bahkan seringkali bukan hal yang penting samasekali…dan dia tak pernah mengeluh karna kelakuanku itu. Hangat tubuhnya akan menenangkanku saat segerombolan masalah datang mendemo otakku dan memberiku kekuatan untuk tetap stay cool menghadapi semuanya… dia yang sangat mengerti ketidakteraturan hidupku, dia yang tau bagaimana menghadapiku..dia yang slalu datang untukku, datang untuk menenangkanku, dia dan hanya dia…karena yang lain tak kan pernah bisa. Bukankah  hanya itu yang aku butuhkan..?? datang saat aku benar-benar membutuhkannya…biarlah yang lain hanya berlalu lalang di depan mukaku..yang kubutuhkan hanya tetap mengamit lengannya di sampingku…
     Astaganaga…kenapa aku malah mengocehkan tentang kekasihku pada kalian?? Betapa bodohnya mulutku ini dalam berkicau…Kalian senang sekarang tlah mampu membuatku membuka kartuku..,,??? Aku harap kalian juga takkan jatuh cinta padanya seperti polah sahabat-sahabatku…

Apalagi??? Namanya??? Belum puas kalian mengulitiku seperti tadi???.....

Oke..oke.. baiklah akan kuberi tau..toh kalian juga tlah mendengar ceritanya dari kicauan mulut bodohku ini…
Eitss,,jangan merasa menang ya…aku hanya tak ingin membuat kalian penasaran setengah mati dan terus-menerus berkicau di telingaku…

Coffeelatte..ya itu nama kekasihku…dan kalian tau apa tittle di muka namanya ? “secangkir”..
Ya..kekasihku adalah “secangkir coffeelatte”…dan aku akan semakin jatuh cinta padanya saat dia dengan senang hati mengubah title nya menjadi bercangkir-cangkir, hahaha….oiya plus hangat diujung namanya..

     Mendengar namanya saja kalian sudah jatuh cinta, apalagi melihat rupanya nanti..tapi aku sudah menduganya akan seperti itu… Ya sama dengan sahabat-sahabatku…akupun langsung jatuh cinta begitu mendengar namanya…. 



My sweet coffeelatte……



Minggu, 20 Februari 2011

My Confession

 

Taukah dirimu ??
Bahwa nyanyian gembiraku adalah goresan kebahagiaan saat kembali dapat menatap senyum itu..
Bahwa tetes air mata ku adalah teriakan marahku atas keangkuhan egomu yang tak pernah mampu kuucapkan karena lidah ini terlanjur kelu…

Terbacakah isyarat itu??
Isyarat yang ku lukiskan di kaki cakrawala bersama sejuta lukisan warna-warni pelangi
Isyarat yang kutitipkan pada sayap-sayap sang peri
Isyarat yang ku selipkan pada setiap untaian doa yang terpanjat pada Sang Kasih…
Dapatkah kau mengeja setiap kepingan isyarat-isyarat itu??

Mungkin matamu memang tlah buta. Sampai-sampai jangankan mengeja, melihatnya pun kau tak akan mampu..

Namun tidakkah mata hatimu membisikkan isyarat itu??
Ataukah ragamu sengaja menulikan telingamu dari bisikan itu??

Aku takkan menyalahkan dirimu..
Kau tau kenapa???
Karena aku takkan sanggup untuk melakukannya…

sekedar berceloteh

  Aku hanya termangu sendiri..meniti setapak demi setapak langkah mencari secercah jejak dalam gelap yang kembali menyergap, mengurung segala asa yang tiada sempat mengecap hangat sang surya…

Tetes-tetes butiran air mata yang hanya tertampung tanpa pernah sanggup tercurah dalam untaian panjang kosa kata karena terlalu mudah membuat lidah ini kelu seketika…
Siapa yang patut kupersalahkan???
Pantaskah dirimu? Layakkah ruang dan waktu? Elokkah Tuhan yang tlah mencipta?
Hanya senyap yang kugapai, senyap yang membungkus diri bak teka-teki, menggantung seraya berayun ringan pada ujung ranting kuasa sang Maha Esa…
Kulantunkan senandungku, bukan tuk merayu..hanya saja sebongkah rasa itu tlah terlanjur beku menunggu sapamu…aku tak tau bagaimana merapuhkannya, bahkan diri ini tak  bergeming saat segalanya mulai membatu…
Senja yang bergulir, menyusuri tiap lekuk sang waktu, menghantam batas cakrawala, mengubur gelak tawa sang surya…
Tapi sudahlah..tak ada yang salah kala rasa yang mulai angkat bicara..




Dalam remang asa yang meredup
menanti kala merenggutnya dalam gelap legam
-01.20-

Jumat, 18 Februari 2011

Dengarlah senandungku



Aku bersenandung di antara gemericik hujan yang turun dari kaki langit…
Melangkah seiring derai airnya yang mengalir deras…
Mengucap salam pada bulir-bulir kristal yang menggantung di ujung dedaunan, menunggu waktu hingga tiba saatnya jatuh dan menyatu dengan tanah…
Angin berhembus lincah membelai tiap ujung helai rambutku..mengajakku menarikan tarian hujan bersamanya…  
Kusambut uluran tangannya, ku hentakkan kaki mengikuti irama simfoni yang terdengar merdu dari balik nirwana..
Awan-awan dilangit kembali turun mengajak para peri pelukis langit tuk ikut menari bersamaku…
Langit merengek padaku…memintaku mengajaknya turun ke bumi..
Namun kau takkan bisa turun tuk menari bersamaku langitku…
Kan ku titipkan senandung bahagiaku untukmu lewat sayap-sayap mungil para peri pelukismu saat kembali ke pelukannmu nanti…
Biarlah para peri kecilmu yang akan menyanyikan senandung cintaku untukmu..
Biarlah mereka yang akan mengajakmu menari bersama seiring lantunan senandung rinduku untukmu…
Kelak para peri kan melukismu dengan sejuta warna yang tersimpan dibalik gaun dan sayap indah mereka…
Warna-warna yang tlah mereka terjemahkan dari senandung cinta dan rinduku untukmu…
Yang akan membekas dalam setiap kenangan indah bahagiamu…yang akan tergambar dalam setiap sudut senyumanmu…
Biarkanlah warna-warna itu senantiasa berada dalam dekapanmu..
Hingga tiba saatnya nanti kau akan hadir bersama sejuta warna bahagiamu tuk menyapaku..
Dan dari atas sana kau akan menemukanku masih menari sembari melantunkan senandung rinduku  yang selalu untukmu…
Saat itu kau akan tau bahwa aku selalu bahagia untuk bahagiamu langitku….