Selasa, 22 Februari 2011

Seberkas Senyum Pelangi

  Terduduk diatas bangku panjang di taman. Menengadahkan wajahnya menyapa semburat  langit, menyisakan sedikit lukisan hujan yang tersembunyi di balik awan. Helaian rambut panjangnya meliuk indah dipermainkan gurauan angin sembari menanti senja. Mata nanarnya menatap ayu, namun tajam menghujam seakan menembus batas cakrawala. Entah apa yang kembali bergejolak dalam benaknya, sesuatu yang ia biarkan meringkuk di sudut terdalam hatinya.
     Sejenak ia menundukkan kepala mengalihkan pandangannya, menatap benda yang melingkar di tangannya. Batu-batu kecil berwarna klasik berjajar rapi, berkeliling menghias pergelangan tangannya. Jemarinya menyentuhnya pelan, mencoba merasakan kembali setitik kenangan yang seolah telah lama tersembunyi di dalamnya. Kenangan yang kembali mengaburkan matanya, menciptakan genangan air di sudut matanya. Benaknya menyusup jauh ke dalam, menyusuri setiap sketsa masa lalu yang terlukis permanen dalam ingatannya. Masih terpampang jelas dalam sanubarinya, semburat janji yang terus ia gantungkan pada asanya yang membuncah. Entah masihkah ia layak memimpikannya. Namun ia tahu pasti bahwa segala yang tergambar itu pernah nyata, bukan hanya sebatas permainan angannya saja. Kembali air matanya menyeruak, menderas, menganak sungai di kedua belah pipinya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar